Friday, 2 May 2014

Penyelamat Keluarga Kita

Mengajar adalah kewajiban yang mesti dilakukan oleh pemimpin keluarga, sebagai realisasi dari perintah AllahTa'ala:
"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya manusiadan batu".(At-Tahrim : 6)
Ayat di atas merupakan dasar pengajaran dan pendidikan anggota keluarga, memerintah mereka dengankebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran.
Di bawah ini beberapa pendapat ahli tafsir tentang ayat tersebut, yakni berkaitan dengan kewajiban yangdipikul oleh pemimpin keluarga.
Al imam Qatadah(wafat 118 h) berkata: "Dia hendaklah memerintahkan mereka melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sertamencegah mereka dari maksiat kepadaNya, hendaklah menjaga mereka dalam melakukan apa yangdiperintahkan oleh Allah dan membantu mereka padanya. Maka apabila kamu melihat kemaksiatan,hendaklah engkau menjauhkan mereka daripadanya dan memperingatkan mereka supaya tidak melakukannya".
Al Imam Adh-Dhahhak (102h) dan Muqatil ( 150 h) berkata: "Merupakan kewajiban setiap muslim, mengajar kepada keluarganya dari kerabatdan hamba sahayanya akan apa yang diwajibkan oleh Allah atas mereka dan apa yang dilarangNya".
Ali ( 40 h)radhiyallah 'anhu berkata: "Ajari dan didiklah mereka''.
Al-Imam At-Thabari ( 310 h)berkata: "Kita hendaknya mengajari anak-anak 

dan keluarga kita masalah agama dankebaikan, serta apa-apa yang penting dan diperlukan dalam persoalan adab dan akhlak".
Apabila Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menganjurkan kita mengajari wanita-wanita dikalangan hamba sahayayakni bukan orang-orang merdeka, maka apatah lagi halnya dengan anak-anakmu dan keluargamu yangmerdeka?"
Imam Bukhari(256 h) dalam Shahihnya, Bab Pengajaran Lelaki Terhadap Hamba Sahaya Perempuan dan Keluarganya,menulis hadits:
"Tiga orang yang mendapat dua pahala: ... dan seorang laki-laki yang memiliki hamba sahaya perempuan lalu iamendidiknya dengan baik, mengajarinya dengan baik, kemudian ia memerdekakannya lalu menikahinya makabaginya dua pahala."
Dalam penjelasan hadits di atas, Ibnu Hajar (852 h) mengatakan: "Kesesuaian hadits dengan terjemahan - maksudnya judulbab - dalam masalah hamba 
sahaya perempuan adalah dengan nash, dan dalam masalah keluarga 
dengan qiyas,sebab perhatian dengan keluarga yang merdeka dalam soal pengajaran kewajiban-kewajiban yang dipertanggungjawabkan oleh Allah dan sunnah-sunnah RasulNya adalah sesuatu yang harus dan pasti daripada perhatian kepada hambasahaya perempuan".
Kerana adanya kesibukan dan tugas serta ikatan lainnya, seseorang terkadang lalai untuk meluangkan waktu bagi dirinya sehingga berpeluang mengajari keluarganya. Diantara jalan keluar dalam persoalan ini maka hendaklah seseorang itu mengkhususkan satu hari dalam seminggu sebagai waktu untuk keluarga, bahkan mungkin juga dengan melibatkan kerabat lain untuk mengendalikan majlis ilmu di dalam rumah. Ia hendaklah mengumumkan hari tersebut kepada segenap anggota keluarga dan memastikan mereka agar menepati dan datang pada hari yang ditentukan 
tersebut, bahkan akan lebih efektif dengan menggunakan kata-kata wajib datang, baikkepada dirinya mahu pun kepada anggota keluarga yang lain.
Berikut ini adalah apa yang terjadi pada diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah ini.
Imam Bukhari(256 h )berkata: "Bab: Apakah bagi Wanita Disediakan Hari Khusus untuk Ilmu?" Lalu menyebut hadits AbuSaid AI-Khudri radhiyallah 'anhu :

"Para wanita berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Kami telah dikalahkan kaum laki-laki dalamberkhidmat kepadamu. Karena itu buatlah untuk kami suatu hari dari dirimu", lalu Rasulullah menjanjikan merekasuatu hari untuk bertemu dengan mereka, maka Rasulullah menasihati dan mengajar mereka"
Ibnu Hajar(852 h) berkata: "Dalam riwayat Sahl bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah hampir sama dengan kisah ini, iaberkata; "Perjanjian kalian di rumah Fulanah, maka Rasulullah mendatangi mereka dan memberi ceramah kepadamereka".
Dari hadits di atas kita boleh mengambil kesimpulan betapa pentingnya pengajaran para wanita di rumah-rumah,dan mengingatkan pula betapa besar perhatian para sahabat wanita dalam masalah belajar, juga menunjukkanbahwa mengkonsentrasikan semangat mengajar hanya kepada laki-laki dengan meninggalkan kaum perempuanadalah kelalaian besar bagi para da'i dan pemimpin rumah tangga.
Sebagian dari kita mungkin berkata, kita telah meluangkan waktu sehari dalam 
seminggu dan hal itutelah kita maklumkan kepada anggota keluarga, lalu apa yang akan kita berikan dalam pertemuan (majlis)tersebut? Dan bagaimana pula memulainya?
Sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut, Dr.A'id Al Qarni memberikan cadangan dalam hal ini sehingga mampu menjadimanhaj (program) sederhana untuk mengajar anggota keluarga secara umum dan bagi kaum wanita secarakhusus.
Tafsir Al-Allamah Ibnu Sa'di, yaitu Tafsir Taisirul Karim Ar-Rahman fi Tafsiiri Kalaamil Mannaan.Terdiri dari tujuh jilid, olahannya dan bahasannya mudah. Tafsir ini mampu ditelaah dan dibaca satu muka surat demi satu muka surat atausemampunya dalam tiap kali pertemuan.
Riyaadhus Shaalihiin dengan keterangan serta pelajaran yang boleh diambil dari 
setiap hadits. Dalam hal ini boleh merujuk pada kitab Nuzhatul Muttaqiin.
Husnul Uswah Bimaa Tsabata Anillaahi Waraasuulihi Fin Niswah, karya Shiddiq Hasan Khan.
Juga penting untuk diajarkan kepada wanita beberapa persoalan hukum Fiqh, misalnya hukum bersuci, haid,hukum solat dan zakat, puasa dan haji, jika mereka telah mampu melakukannya. Demikian pula hukum makanandan minuman, pakaian dan perhiasan, sunnah-sunnah fitrah dan para mahram, hukum lagu, gambar dansebagainya.
Diantara rujukan-rujukan penting dalam masalah-masalah tersebut yaitu fatwa-fatwa para ulama yang muktabar samada berupa buku mahupun rakaman .
Termasuk dalam kategori jadual pengajaran wanita dan keluarga adalah dengan mengingatkan mereka untuk mengikuti  berbagai ceramah umum yang disampaikan oleh para ulama, atau penuntut ilmu yang diyakini berkemampuan dalam bidangnya. Ini adalah untuk lebih banyak memberikan refrensi dan sumber pengajaran,juga untuk variasi.
 Selain itu, jangan pula dilupakan galakan mendengar siaran bacaan Al-Qur'anul Karim serta menaruh perhatian kepadanya. Termasuk dalam rangka penyediaan sarana pengajaran adalah mengingatkan anggota keluarga pada hari-hari tertentu agar para wanitanya menghadiri pameran buku-bukuIslami,tanpa mengabaikan tatasusila serta adab seorang wanita keluar dari rumah.



Tuesday, 29 April 2014

Hadis Palsu Kelebihan Puasa Di Bulan Rejab

Hadis atau hadith palsu kelebihan puasa di bulan Rejab tersebar. Menerusi kenyataan rasmi oleh Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim), petikan atau hadis mengenai kelebihan berpuasa di bulan rejab yang tersebar menerusi laman sosial adalah tidak benar. Pengguna laman sosial khususnya dinasihatkan agar lebih berwaspada agar tidak menyebarkan hadis dari sumber yang tidak sahih kerana ianya boleh memesongkan akidah umat islam. Satu perkara yang perlu juga dijelaskan ialah tiada amalan khusus dalam bulan Rejab yang diriwayatkan oleh Rasulullah SAW dari hadith-hadith Sahih.

Petikan Hadis Palsu Puasa Bulan Rejab Tersebar

Barangsiapa berpuasa sehari di bulan Rejab maka ia laksana berpuasa setahun. Bila berpuasa 7 hari maka ditutuplah untuknya pintu-pintu neraka Jahanam. Bila berpuasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu syurga. Bila berpuasa 10 hari, Allah akan mengkabulkan semua permintaannya

Penjelasan Mengenai Hadis Kelebihan Bulan Rejab

Amalan tertentu seperti solat sunat Rejab, puasa Rejab dan umrah di bulan Rejab adalah bersandarkan kepada hadis-hadis lemah. Namun masih banyak lagi amalan sunat secara umum yang masih boleh kita tunaikan di bulan Rejab ini sebagai persediaan menjelang tibanya bulan Ramadhan seperti qimullail, puasa Isnin dan Khamis. Tadarus Al Quran dan lain-lain lagi.Memperbanyak puasa sunat amat digalakkan agar tubuh kita tidak terkejut apabila menerima tuntutan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan.

Contoh Hadis Palsu Mengenai Kelebihan Puasa Bulan Rejab

hadis palsu 2



 

Monday, 28 April 2014

Bengkel Pemantapan Prog. Masjid Gemilang

 

Bengkel Pemantapan Program Masjid Gemilang Bagi Tahun 2014 Di Hotel Seri Malaysia Rompin Pada 28 Hingga 30 April 2014.

 

Wednesday, 16 April 2014

Suburkanlah Keimanan Dalam Rumahtangga

Medan Mengingati Allah

Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda:

"Perumpamaan rumah yang di dalamnya ada dzikrullah, dan rumah yang tidak ada dzikrullah di dalamnya adalah(laksana) perumpamaan antara yang hidup dengan yang mati".
Hadits riwayat Muslim dan Abu Musa 1/539, cet. Abdul Baqi

Oleh itu rumah harus dijadikan sebagai tempat untuk melakukan berbagai zikir, baik itu zikir dalamhati mahupun dengan lisan, solat, atau membaca selawat dan Al-Qur'an, atau mempelajari ilmu-ilmu agama,atau membaca buku-buku lain yang bermanfaat.

Saat ini betapa banyak rumah-rumah umat Islam yang mati karena tidak ada zikrullah di dalamnya,sebagaimana disebutkan oleh hadis di atas. Dan apatah lagi yang menjadi dendangan di dalam rumahitu adalah syair-syair dan lagu-lagu yang melalaikan, mengumpat, mencela dan mengadu domba?

Apatah lagi jika rumah-rumah itu penuh dengan kemaksiatan dari kemungkaran, seperti ikhtilat (percampuran bukan muhrim tanpa batasan) yang diharamkan, tabarruj (pamer kecantikan dan perhiasan) di antara kerabat yang bukanmahram atau kepada tetangga yang masuk ke rumah?

Bagaimana mungkin malaikat akan masuk ke dalam rumah dengan keadaan seperti itu? Karena itu hidupkanlahrumah kita dengan zikrullah! Mudah-mudahan Allah merahmati rumahtangga kita.

Tempat Ibadah

Maksudnya, menjadikan rumah sebagai tempat beribadah.
Allah berfirman:
"Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: "Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesiruntuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu sebagai kiblat dan dirikanlahsolat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman". (Yunus: 87).

Ibnu Abbas berkata: "Maksud disuruh menjadikan rumah-rumah mereka sebagai kiblat iaitu merekadiperintahkan menjadikan rumah-rumah itu sebagai masjid-masjid (tempat beribadah)".

Ibnu Katsir berkata: "Hal ini seakan-akan - Wallahu a'lam - ketika siksaan dan tekanan Fir'aun beserta kaumnyasemakin menjadi-jadi atas mereka, maka mereka disuruh untuk memperbanyak solat sebagaimana firman AllahTa'ala :
"Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu".(Al-Baqarah: 153).

Dalam hadits:

"Apabila Rasulullah solallahu alaihi wasalam menghadapi suatu kesulitan, maka beliau melakukan solat". TafsirIbnu Katsir, 4/224.

Hal ini menegaskan betapa pentingnya ibadah di dalam rumah-rumah,terutama dalam waktu-waktu lemah dantertindas, demikian pula dalam beberapa kesempatan manakala umat Islam tidak mampu menampakkan solat mereka di hadapan orang-orang kafir. Dalam hal ini kita juga perlu mengenang kembali mihrab Maryam, yaknitempat peribadatan beliau, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta'ala:

"Setiap kali Zakaria masuk untuk menemui Maryam di Mihrab ia dapati makanan di sisinya". (Ali lmran : 37)

Para sahabat juga amat memperhatikan masalah solat di dalam rumah mereka selain solat fardhu. Sebuahkisah di bawah ini menarik sebagai pengajaran bagi kita :

"Dari Mahmud bin Ar-Rabi' Al-Anshari, bahwasanya Itban bin Malik - dia adalah salah seorang Sahabat RasulullahShallallahu alaihi wasalam yang ikut serta dalam perang Badar, dari kaum Anshar - ia datang kepada RasulullahShallallahu alaihi wasalam lalu berkata: "Wahai Rasulullah!, pandanganku telah menipu tapi aku tetap shalatbersama kaumku, apabila turun hujan, mengalirlah air di lembah (yang memisahkan) antara aku dengan merekasehingga aku (tak) bisa datang ke masjid mereka dan solat bersama-sama, aku sangat ingin wahai Rasulullah,jika engkau datang kepadaku dan solat di dalam rumahku sehingga aku menjadikannya sebagai musolla (tempat shalat)". Ia berkata: "Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersabda kepadanya: "Akan akulakukan Insya Allah"." Itban berkata: "Maka berangkatlah Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam dan Abu Bakarketika siang (yang panas terik), maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam meminta izin, lalu aku mengizinkankepada beliau, beliau tidak duduk sebelum masuk ke dalam rumah lalu beliau berkata: "Di bagian mana engkausuka aku melakukan solat dalam rumahmu?" . "Ia berkata: "Maka aku tunjukkan kepada beliau suatu arah darirumahku, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam berdiri kemudian bertakbir, lalu kami semua berdirimembentuk barisan, dan Nabi Shallallahu alaihi wasalam solat dua rakaat kemudian salam".

Dalam memetik pelajaran dari hadits di atas, Ibnu Hajar berkata: "Di situ merupakan pelajaran, agar kitamenggunakan tempat tertentu untuk melakukan solat dalam rumah. Adapun larangan untuk menjadikan tempattertentu dalam masjid sebagaimana dalam hadits Abu Daud, itu jika ia lakukan untuk riya' atau yang sejenisnya.Menjadikan tempat tertentu dalam rumah untuk solat bukan berarti menjadikan tempat tersebut sebagai wakaf- tidak berlaku padanya hukum wakaf - meski secara umum dikategorikan dengan nama masjid.

Wallahu a'lam




Tuesday, 15 April 2014