Arrahmah.com) - Indonesia
tengah menjadi target Syi’ahisasi besar-besaran. Hingga kini banyak
pengikutnya berada di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Jawa Barat
dan Sulawesi Selatan.
Jumlah penganut Syiah di Indonesia Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul
Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rakhmat, pernah mengatakan kisaran
jumlah penganut Syiah di Indonesia , “Perkiraan tertinggi, 5 juta orang.
Tapi, menurut saya, sekitar 2,5 jiwa,” kata Kang Jalal, sapaan
Jalaluddin Rakhmat. Pemeluk Syiah, kata Kang Jalal melanjutkan, sebagian
besar ada di Bandung, Makassar, dan Jakarta. Selain itu, ada juga
kelompok Syiah di Tegal, Jepara, Pekalongan, dan Semarang; Garut;
Bondowoso, Pasuruan, dan Madura.
Diperkirakan, kebanyakan dari mereka sedang melakukan taqiyah dalam
rangka melindungi diri dari kelompok Sunni. Taqiyah adalah kondisi luar
seseorang dengan yang ada di dalam batinnya tidaklah sama. Memang
taqiyah juga dikenal di kalangan Ahlus Sunnah. Hanya saja menurut Ahlus
Sunnah, taqiyah digunakan untuk menghindarkan diri dari musuh-musuh
Islam alias orang kafir atau ketika perang maupun kondisi yang sangat
membahayakan orang Islam.
Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Jalaluddin Rakhmat.
Sementara itu menurut Syi’ah bahwa Taqiyah wajib dilakukan. Jadi taqiyah
adalah salah satu prinsip agama mereka. Taqiyah dilakukan kepada orang
selain Syi’ah, seperti ungkapan bahwa Al Quran Syi’ah adalah sama dengan
Al Quran Ahlus Sunnah. Padahal ungkapan ini hanyalah kepura-puraan
mereka. Mereka juga bertaqiyah dengan pura-pura mengakui pemerintahan
Islam selain Syi’ah.
Menurut Ali Muhammad Ash Shalabi, taqiyah dalam Syiah ada empat unsur pokok ajaran; Pertama, Menampilkan hal yang berbeda dari apa yang ada dalam hatinya. Kedua, taqiyah digunakan dalam berinteraksi dengan lawan-lawan Syiah. Ketiga, taqiyah berhubungan dengan perkara agama atau keyakinan yang dianut lawan-lawan. Keempat, digunakan di saat berada dalam kondisi mencemaskan
Menurut Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi di Majalah Islam Internasional
Qiblati, ciri-ciri pengikut Syi’ah sangat mudah dikenali, kita dapat
memperhatikan sejumlah cirri-ciri berikut:
Mengenakan songkok hitam dengan bentuk tertentu. Tidak seperti songkok
yang dikenal umumnya masyarakat Indonesia, songkok mereka seperti
songkok orang Arab hanya saja warnanya hitam.
Tidak shalat jum’at. Meskipun shalat jum’at bersama jama’ah, tetapi dia
langsung berdiri setelah imam mengucapkan salam. Orang-orang akan
mengira dia mengerjakan shalat sunnah, padahal dia menyempurnakan shalat
Zhuhur empat raka’at, karena pengikut Syi’ah tidak meyakini keabsahan
shalat jum’at kecuali bersama Imam yang ma’shum atau wakilnya.
Pengikut Syi’ah juga tidak akan mengakhiri shalatnya dengan mengucapkan
salam yang dikenal kaum Muslimin, tetapi dengan memukul kedua pahanya
beberapa kali.
Pengikut Syi’ah jarang shalat jama’ah karena mereka tidak mengakui
shalat lima waktu, tapi yang mereka yakini hanya tiga waktu saja.
Mayoritas pengikut Syi’ah selalu membawa At-Turbah Al-Husainiyah yaitu
batu/tanah (dari Karbala – redaksi) yang digunakan menempatkan kening
ketika sujud bila mereka shalat tidak didekat orang lain.
Jika Anda perhatikan caranya berwudhu maka Anda akan dapati bahwa
wudhunya sangat aneh, tidak seperti yang dikenal kaum Muslimin.
Anda tidak akan mendapatkan penganut Syi’ah hadir dalam kajian dan ceramah Ahlus Sunnah.
Anda juga akan melihat penganut Syi’ah banyak-banyak mengingat Ahlul Bait; Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiyallahu anhum.
Mereka juga tidak akan menunjukkan penghormatan kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, mayoritas sahabat dan Ummahatul Mukminin radhiyallahu anhum.
Pada bulan Ramadhan penganut Syi’ah tidak langsung berbuka puasa setelah
Adzan maghrib; dalam hal ini Syi’ah berkeyakinan seperti Yahudi yaitu
berbuka puasa jika bintang-bintang sudah nampak di langit, dengan kata
lain mereka berbuka bila benar-benar sudah masuk waktu malam. (mereka
juga tidak shalat tarwih bersama kaum Muslimin, karena menganggapnya
sebagai bid’ah)
Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menanam dan menimbulkan fitnah
antara jamaah salaf dengan jamaah lain, sementara itu mereka mengklaim
tidak ada perselisihan antara mereka dengan jamaah lain selain salaf.
Ini tentu tidak benar.
Anda tidak akan mendapati seorang penganut Syi’ah memegang dan membaca Al-Qur’an kecuali jarang sekali, itu pun sebagai bentuk taqiyyah (kamuflase),
karena Al-Qur’an yang benar menurut mereka yaitu al-Qur’an yang berada
di tangan al-Mahdi yang ditunggu kedatangannya.
Orang Syi’ah tidak berpuasa pada hari Asyura, dia hanya menampilkan kesedihan di hari tersebut.
Mereka juga berusaha keras mempengaruhi kaum wanita khususnya para
mahasiswi di perguruan tinggi atau di perkampungan sebagai langkah awal
untuk memenuhi keinginannya melakukan mut’ah dengan para wanita tersebut
bila nantinya mereka menerima agama Syi’ah. Oleh sebab itu Anda akan
dapati;
Orang-orang Syi’ah getol mendakwahi orang-orang tua yang memiliki anak
putri, dengan harapan anak putrinya juga ikut menganut Syi’ah sehingga
dengan leluasa dia bisa melakukan zina mut’ah dengan wanita tersebut
baik dengan sepengetahuan ayahnya ataupun tidak. Pada hakikatnya ketika
ada seorang yang ayah yang menerima agama Syi’ah, maka para pengikut
Syi’ah yang lain otomatis telah mendapatkan anak gadisnya untuk
dimut’ah. Tentunya setelah mereka berhasil meyakinkan bolehnya mut’ah.
Semua kemudahan, kelebihan, dan kesenangan terhadap syahwat ini ada
dalam diri para pemuda, sehingga dengan mudah para pengikut Syi’ah
menjerat mereka bergabung dengan agama Syi’ah.
Ciri-ciri mereka sangat banyak. Selain yang kami sebutkan di atas masih
banyak ciri-ciri lainnya, sehingga tidak mungkin bagi kita untuk
menjelaskan semuanya di sini. Namun cara yang paling praktis ialah
dengan memperhatikan raut wajah. Wajah mereka merah padam jika Anda
mencela Khomeini dan Sistani, tapi bila Anda menghujat Abu Bakar, Umar,
Utsman, Aisyah dan Hafshah, atau sahabat-sahabat lainnya radhiyallahu anhum tidak ada sedikitpun tanda-tanda kegundahan di wajahnya.
Akhirnya, dengan
hati yang terang Ahlus Sunnah dapat mengenali pengikut Syi’ah dari
wajah hitam mereka karena tidak memiliki keberkahan, jika Anda
perhatikan wajah mereka maka Anda akan membuktikan kebenaran penilaian
ini, dan inilah hukuman bagi siapa saja yang mencela dan menyepelekan
para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para ibunda kaum Musliminradhiyallahu anhunn yang dijanjikan surga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita memohon hidayah kepada Allah untuk kita dan mereka semua.
Wallahu a’lam.
Written By canang on Sabtu, 28 Disember 2013 | 12/28/2013 06:27:00 PTG
Kepada jemaah kariah Masjid Saidina Othman Ibnu Affan, Bukit Rangin,
Tuan/puan dipelawa untuk menyertai pasukan "Sukarelawan Masjid"
yang akan memulakan operasinya pada Januari 2014.
1. Siapakah yang layak memohon?
a. Pesara (tiada had umur)
b. Penjawat Awam/Swasta
c. Pelajar 12 tahun ke atas (Sek. Men. / Remaja / Kolej / Universiti)
d. Pelajar 10 - 12 tahun (perlu kebenaran ibu bapa)
e. Lelaki dan perempuan
2. Apakah tugasannya?
a. Membantu meningkatkan taraf kebersihan dan keceriaan masjid
b. Menjayakan apa sahaja aktiviti yang dianjurkan oleh masjid
c. Memberikan bantuan kepada pelawat-pelawat yang datang ke masjid
3. Bila pula masa bertugas?
a. Masa bertugas adalah pilihan anda sendiri, pilih, tetapkan dan jalankan
“Aku dilahirkan sebagai seorang Yahudi Rusia. Perjuanganku bermula
semasa aku berumur 19 tahun. Keyakinanku terhadap tuhan kerap
berbolak-balik. Cita-citaku dalam hidup ini mulanya adalah nak menjadi
seorang bintang rock. Aku tinggal di US dan bekerja sebagai
setiausaha….. sungguh melucukan..
Suatu malam aku berjalan ke dapur, tiba-tiba ternampak satu lembaga
hitam, rupanya kawan serumahku. Aku masih ingat bertanya dia “Boleh tak
aku simpan vodka ini dalam peti ais?. Lepas tu kami bersalaman dan
kembali ke bilik tidur. Selepas itu, kehidupan aku berubah secara
tiba-tiba.
Kawan aku ini adalah seorang muslim. Dia adalah orang Islam yang
pertama aku kenali. Oleh sebab terlampau kuat semangat ingin tahu aku
pun bertanya kepada dia tentang Islam… Aku tanya dia pasal sembahyang 5
waktu, perang jihad, siapa Muhammad?
Perbualan kami turut disertai bersama dengan seorang kawan Kristian
kami bernama Wade. Jadi kami pun membentuk dialog antara agama Islam,
Yahudi dan Kristian. Dalam sesi tersebut kami telah menemui banyak
perbezaan dan persamaan.
Tanpa kusedari minatku telah bertukar daripada seks, dadah dan
berpesta kepada pencarian mendalam kepada agama. Satu pencarian yang aku
perlu lengkapkan. Pencarian kepada tuhan dan pencarian bagaimana untuk
mengikuti perintah tuhan.
Dalam kesungguhanku mencari kebenaran, aku bertanya kepada diriku.
Ok, kita mula cara mudah, ada berapa tuhan sebenarnya? Aku yakin ada
satu je.. sebab kalau banyak tuhan akan jadi lemah sebab pasti berlaku
perselisihan dan pergaduhan… Satu tuhan adalah keyakinanku, dan
pilihanku.
Suatu ketika dulu aku buka mindaku kepada kemungkinan wujudnya tuhan.
Aku analisa pandangan orang yang percaya dan tak percaya. Yang
membuatkan aku menyebelahi orang yang percaya adalah ungkapan ‘setiap
rekaan mesti ada perekanya’. Dengan keyakinan sedemikian dalam diriku
akhirnya aku sedar dengan yakin bahwa tuhan itu wujud. Aku masa tu masih
tak dapat menjelaskannya tetapi jauh dalam lubuk hatiku aku percaya.
Ketakjuban yang baru aku jumpa ni diikuti dengan rasa tanggungjawab
terhadap Penciptaku. Dunia beragama kemudian menjadi tumpuanku.
Lepas tu aku bertanya pada diriku “Mana aku akan mula?” Secara lisan
ada ribuan jenis kepercayaan. Aku perlu juruskan kepada hanya beberapa
kepercayaan sahaja. Macam mana aku nak selesaikan masalah ini? Mula-mula
cari yang percaya pada satu tuhan sahaja. Ini aku masukkan dalam kepala
otakku. Tentu sekali ini logik sebab aku hanya percaya pada satu tuhan
sahaja.”
Ok, lepas tu.. “ini maknanya kita tolak agama Hindu dan Buddha sebab
keduanya percaya pada banyak tuhan. Jadi tinggal 3 saja agama yang ada
satu tuhan iaitu Islam, Yahudi dan Kristian…. Jadi oleh sebab aku ni
Yahudi aku mula dengan Judaism (Ugama Yahudi) terdapat satu tuhan,
beberapa Rasul, ‘10 Commandments’, Taurat, jiwa Yahudi…apa,.. apa jiwa
Yahudi?
Masa aku buat kajian perkara ini menghantui fikiranku. Ceritanya
‘Jika seseorang tu dilahirkan sebagai Yahudi dia ada jiwa Yahudi dan
mereka mesti menganut Judaism (agama Yahudi)’…. tunggu jap..kalau macam
tu ni dah jadi diskriminasi kan? Sedangkan agama itu patut universal
(menyeluruh).
Jadi tuhan juga buat jiwa Yahudi, jiwa Kristian dan jiwa Muslim dan
jiwa Hindu? Aku ingat semua manusia diciptakan sama sebagai manusia?
Jadi kalau seseorang itu dilahirkan dalam sesuatu agama dengan ketentuan
tuhan, maka dia mesti berada dalam agama tersebut walaupun akhirnya
seseorang tu mendapati agamanya sesat?…hmmm aku tak percaya ..camtu
zalim tuhan..ini mustahil.
Satu hal lagi yang peliknya dalam Judaism tak ada konsep neraka…yang
ada syurga je…kalau macam tu kenapa nak buat baikkan? Kenapa hidup ni
tak buat dosa je? kan elok? Kalau aku takde rasa takut dengan pembalasan
atas kejahatan yang aku lakukan kenapa aku perlu berlaku baik dalam
hidup?
Kita teruskan..Aku dapati Christianity (agama Kristian) ok, ada satu
tuhan, seorang anak, seorang bapa dan roh suci…macam mana nak kata semua
ni satu tuhan 1+1+1 =3 bukan satu? Jadi macam mana yang dikatakan
percaya satu tuhan?
Penjelasan lepas penjelasan, persamaan lepas persamaan dan
perbandingan lepas perbandingan, analogi lepas analogi.. aku tak dapat
terima konsep ini… Ok kita tengok isu lain pula…
Jesus mati disebabkan dosa kita dan dia lakukan sedemikian sebab kita
telah dipenuhi dengan ‘dosa asli’. Jadi, Jesus Christ anak tuhan perlu
dikorbankan untuk menyelamatkan semua orang daripada neraka dan
menyembuhkan kita daripada dosa yang diberikan kepada kita oleh Adam
Ok, kalau begitu maknanya kamu mengatakan bahawa kita dilahirkan
sebagai orang yang telah sedia berdosa? Dan untuk jadi orang yang
berdosa seseorang itu perlu melakukan satu dosa baru boleh jadi
begitukan? Jadi kamu beritahu aku yang bayi yang baru lahir telah
melakukan kesalahan berdosa? Yang ni pelik.. takkan sebab kesalahan satu
orang semua manusia kena pikul dosanya? Apakah maksud pegangan
sebegini? Seksa semua orang walaupun satu orang melakukan kesalahan?
Kenapa tuhan buat undang-undang macam tu? Tuhan tak zalim..mustahil… tak
logik… aku tak percaya.
Jadi Jesus Christ mati kerana beliau ‘mengasihi manusia’.. Nanti dulu
dalam Bible disebut Jesus berkata “Bapa, kenapa aku dibuat begini?”
Bermakna Jesus tak faham kenapa dia dibunuh secara kejam.. Tetapi kamu
kata dia secara sukarela dikorbankan…. Walau apapun aku tetap tak dapat
terima kepercayaan begini.
Ok, agama selanjutnya adalah Islam….
Islam bermaksud penyerahan diri. Kepercayaan umumnya adalah satu
tuhan, solat 5 waktu sehari semalam, infaqkan 2.5% zakat tahunan kepada
fakir miskin, berpuasa bulan Ramadan.. dan mengerjakan Haji sekali
seumur hidup jika mampu. Ok, tak ada yang sukar untuk difahami. Tak ada
yang bercanggah dengan logik akalku. Al-Quran adalah kitab mukjizat.
Banyak bukti saintifik telah diperolehi daripadanya sejak 1,400 tahun
yang lalu.
Ok. Islam telah melepasi tapisan awalku tentang keagamaan.. Tetapi
aku ingin bertanya beberapa soalan yang mendalam tentangnya.. Adakah
Islam itu menyeluruh? Ya.. semua orang boleh faham kepercayaan yang asas
ini. Tiada analogi atau persamaan yang diperlukan.. Adakah ianya
selaras dengan Sains? Sudah tentu.. terdapat berdozen ayat-ayat al-Quran
yang menjelaskan tentang Sains moden dan teknologi.
Semakin aku membuat kajian ke atas ratusan fakta logik yang aku baca
dan buat kajian, satu perkara lagi mengetuk fikiranku…yang paling utama
sekali Islam.. nama agama. Aku dapati ianya disebutkan banyak kali di
dalam Al-Quran.
Walau bagaimanapun, mengingat semula kajianku yang lepas. Aku tak
ingat pun melihat satu perkataan Judaism di dalam ‘Old Testament” atau
Christianity di dalam ‘New Testament”. Perkara ini amat besar dan
mustahak. Kenapakah kita tak jumpa nama agama masing-masing dalam kitab
berkenaan? Sebab… memang tidak ada nama agama dalam kitab tersebut ..
Saya pun berfikir.. Judaism datang daripada perkataan “Juda” dan
“ism” sementara Christinity daripada perkataan “Christ” dan ” ianity”…
Jadi siapakah Juda ini? Dia adalah ketua kabilah Hebrew ketika tuhan
menurunkan wahyu kepada manusia. Jadi agama ini dinamakan daripada nama
seseorang.. Ok.. kita tengok pula siapakah Jesus Christ. Dia adalah
orang yang menyampaikan risalah tuhan kepada golongan Yahudi. Jadi,
kesimpulannya agama ini dinamakan dengan nama manusia. Bercanggah dengan
fakta, agama Judaism dan Christinity tidak ada disebutkan dalam kitab
suci mereka.. Bagi aku ini sangat pelik.. aku tak boleh terima.
Kalaulah aku jual barang dari rumah ke rumah dan aku cakap pada tuan
rumah “Tuan nak beli barangan (tiada nama)? Tentu sekali jawapan logik
adalah “Apakah barangan (tiada nama) ini dipanggil?.. Pasti saya takkan
dapat menjual walau satu produk pun yang tiada nama, bukan? Menamakan
sesuatu adalah perkara asas manusia menentukan objek baik secara fizikal
atau bukan fizikal. Kalau agama yang hendak dianuti dan disebar kepada
manusia di atas mukabumi, tentu sekali ianya mesti ada nama.
Sudah tentu sekali nama agama adalah nama yang diberikan oleh tuhan
yang maha Esa? Aku yakin macam tu… tepat sekali.. Nama Judaism dan
Christianity tidak ditulis dalam kitab suci mereka, manusia yang
ciptakannya bukan tuhan. Kenyataan yang tuhan menurunkan agama untuk
manusia ikuti tanpa nama adalah mustahil pada pendapat aku… Tak masuk
akal.
Pada hujah ini, Judaism dan Christianity dah hilang kredibiliti
sebagai asli, logik dan menyeluruh sebagai sebuah agama daripada
pandanganku. Islam adalah hanya satu agama yang ada nama agamanya
tercatat dalam kitab suci,,,, ini sangat penting dan bermakna bagiku.
Aku kini menyedari aku wajib mengikuti Islam…….kemudian aku mengucap
syahadah…aku bersyukur diketemukan dengan kebenaran. Dulu aku dalam
kegelapan ..kini aku dalam cahaya kebenaran..
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Friska Yolandha Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Yusha
begitu yakin akan kebenaran yang tercantum dalam kitab suci itu.
Suatu
hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda
kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka,
kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak
terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya
sebagai seorang Kristen.
‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin.
‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha.
‘’Apakah
kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui
tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta
tahu seluruh detail isinya?’’
Yusha mengaku tak pernah membaca
Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca
kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca
Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali
Alkitab.
Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1.
Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan
bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya
yang mengikuti seruannya. Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan
mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang
naik ke kapal saja yang selamat.
Setelah banjir, seperti
dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh meminum anggur dan keluar dalam
keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan
Tuhan bisa bersikap seperti itu.
‘’Tidak mungkin seorang nabi
bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak
mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.
Yusha
kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia
menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya
justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah
seperti pelaku kriminal, yang justru dicari-cari polisi.
Ia pun
amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat
melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak
mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya
berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi
keyakinannya terhadap Yesus.’’
Yusha diminta agar tidak perlu
mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa
yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca
Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai.
Mereka memintanya untuk membaca Perjanjian Baru.
Di dalam
Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus
berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan
surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa
dalam 10 Perintah Allah, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah
Allah dan tidak ada yang lain.
Yusha lalu mencari tahu mengenai
Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal
yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia
pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia
terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.
Dalam hatinya
muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol.
Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di
atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta.
Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan
khutbah Kristen di gerejanya.
Saat kondisi imannya sedang goyah,
Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang
kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada
salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna
dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.
Sejak hari
itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan
meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia
mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga
sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak
membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.
‘’Tuhan,
jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan
sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.
****
Yusha
Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat. Ia
dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat
konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum
makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak
membawa perempuan ke rumah. ‘’Itu yang saya pelajari di sekolah
Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan
kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah
pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di
sekolah Minggu.
Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di
pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen.
Di kahir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan
pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu
seperti sekolah normal.
Ketika berumur 15 tahun, nenek Yusha
meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan
cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin
mengemudi (SIM), sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian.
Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman
baiknya.
Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah
perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini
tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau
lihat di televise. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang
dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja.
Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan
menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’
Hal ini
sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang
berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun,
ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang
misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami
Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan
harus terselesaikan.
****
Pada suatu hari, Yusha pergi
ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu,
ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin
anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh
orang-orang bersenjata.
Kejadian itu membuatnya sangat takut,
sehingga hari itu juga Yushakembali ke rumah neneknya. Ia tidak
menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia
menyimpannya, sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.
Dalam
mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu,
ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak
mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil
berteriak.
Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau
berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan
mimpi yang dialaminya.
‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.
‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.
“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”
Yusha
pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak
menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana,
kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk
kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.
Yusha
mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut
agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh
dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin
aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”
Sejak saat itu, ia tidak
mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Tusha ingin melihat apa
yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama
lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai
olehnya.
****
Sampai pada suatu hari, Yusha
berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam.
Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari
kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka
membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam
yang sebenarnya.
Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam
di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke
masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha
selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat
masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.
“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.
Ia
lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki
mendekatinya dan bertanya, ‘’ Apa sedang kau lakukan di sini?’’
‘’Aku sedang menunggu Musa.’’
‘’Musa
tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat
masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’
Awalnya.
Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke
masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria
itu memperlakukannya dengan sangat baik.
Ia pun masuk ke dalam
masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa
lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud
untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan
kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu
adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.
Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’
Ketika
sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera
memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila
memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’
Kakeknya pernah
berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu
pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke
ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam.
Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.
Ia terperangah dan
terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak
dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum
dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun
bertekad untuk menjadi seorang Muslim. Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”
‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’
Yusha
pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad
sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998, Yusha yang bernama asli
Joshua akhirnya memeluk Islam. ‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain
Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’
Sejak
itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika
Serikat. Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah. Umat Islam di
negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan
Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam. Sumber:
islamevents.com/yushaevans.com
Kisah Muslim – Sederhananya ceritaku dimulai
pada tahun pertama aku kuliah. Aku mengalami tahun dimana banyak masalah
menerpaku, orang tuaku bercerai tahun itu, anjingku mati, itu merupakan
hari menyedihkan, subhanallah. Aku mengalami dua kali kecelakaan mobil
dalam angka dua minggu. Dan hal yang menyedihkan juga, temanku
meninggal tahun itu.
Kupikir tahun itu membuatku berpikir “Kenapa aku disni? Apa tujuan
kehidupan? Kenapa aku harus bangun di pagi hari? Kenapa aku peduli?
Kenapa aku tidak duduk di sofa dan menonton TV saja?”
Dan kurasa aku mulai bertanya tentang hidup, dan hal itu menuntunku untuk memulai sedikit petualangan rohani.
Secara naluriah sebagai orang Australia, hal pertama yang kulakukan
adalah meneliti Kristen. Aku punya beberapa teman yang memeluk Kristen
dan aku ingat berpergian ke acara camping gereja. Itu salah satu camping
terlucu yang pernah kuikuti sepanjang hidupku.
Setiap orang bernyanyi, aku tidak tahu kata-katanya, aku tidak tahu
apa yang kuucapkan. Mereka punya suara yang indah tapi terasa aneh. Dan
setiap orang berkata padaku bahwa betapa Tuhan mencintaiku, dan aku
berpikir “Tuhan mencintaiku? Tapi kok anjingku mati.” Subhanallah.
Jadi aku terus meneliti Kristen dan aku meneliti aspek berbeda dari
kekristenan, jadi kita beralih membicarakan tentang Katolik, kita
membahas tentang Anglican, Baptist, pendeta, pastor, dan setiap kali aku
pergi ke sana dan bertanya, aku perhatikan mereka tidak mengambil Bible
dan mulai berkata “Inilah jawabannya saudaraku.” Mereka langsung
menawabku saja. Mereka langsung menjawab dari pendapat mereka sendiri.
Dan aku mulai menyadari ada banyak tafsir dari kekristenan dan banyak
orang mempunyai penjelasan masing-masing. Seorang pendeta dari suatu
gereja percaya akan satu aspek kekristenan, sementara yang lain memiliki
pendapat yang berbeda. Jadi aku mulai berpikir, Bible merupakan satu
buku tapi begitu banyak perbedaan dan itu membingungkan.
Pada waktu itu aku berada di tahun pertama kuliah, aku juga bekerja
di sebuah pom bensin, salah satu kerja paruh waktuku. Dan salah satu
teman kuliahku seorang Hindu, orang Hindu dari India. Kita sering
berganti shift dan pada saat itu aku sangat ingin tahu, lalu aku
bertanya padanya, “Kawan, apa yang terjadi dengan manusia kepala gajah?
Mengapa bisa begitu? Kenapa Tuhan itu mempunyai kepala gajah?” Dia
menjawab, “Itu Ganesha.” Aku katakan, “Mestinya kau bisa ganti dengan
kepala singa atau sesuatu yang sedikit lebih baik?” Ya, ini debat agama
sambil melayani orang-orang membeli bensin.
Dan sekali lagi, kurasa doktrin ini susah untuk dipahami. Jadi kuputuskan untuk menganalisis lebih dalam.
Temanku adalah seorang Mormon. Agama ini sebenarnya lebih menarik
bagiku daripada sekte-sekte Kristen yang lain. Gereja dari Latter Day
Saints. Mereka cukup ketat. Mereka tidak minum alkohol dan tidak juga
minum kafein. Tapi mereka suka minum cola, karena yang kutahu Leboz
(orang Libanon) suka cola. Tetapi sekali lagi ada pengalaman rohani baru
yang harus kujalani sebelum menganut agama ini dan aku tidak suka hanya
mendapatkan pengalaman rohani, aku ingin bukti.
Aku juga meneliti Yudaismne, apakah kalian percaya? Namaku sebelum
Abu Bakar adalah Ruben. Jadi jika kalian mungkin nonton film Hollywood,
kalian melihat Rubenstein, dan mereka mungkin berpikir bahwa aku seorang
Yahudi dan “Orang ini adalah salah satu dari kita.” Tapi sekali lagi,
aku tidak menemukan apa yang sedang kucari di sini.
Terakhir, aku mencoba Budha dan kurasa ini adalah agama yang akan
kupilih, kupikir ini hebat. Banyak orang-orang kulit putih menganut
agama ini dan ini membuatku tertarik. Mereka juga tampak bersatu dengan
alam dan itu menurutku paling menarik. Tapi semakin aku mendalaminya,
kusadari itu bukanlah sebuah agama Tuhan, itu hanya sebauh gaya hidup
yang baik.
Dan salah satu teman baikku yang menganut Kristen mengatakan,
“Katakan padaku agama yang telah kau teliti.” Kukatakan semua,
“Yudaisme, Kristen, Taosisme, Budha, Hindu.” Dia berkata, “Bagaimana
dengan Islam?” Kujawab, “Islam?! Mereka teroris! Aku tak akan meneliti
agama itu. Mereka gila! Kenapa juga aku harus meneliti agama itu?”
Tapi setelah beberapa waktu, aku berjalan ke sebuah masjid. Ini
adalah perjalanan abadiku. Jadi aku berjalan lurus, masih pakai sepatu,
terus melewati karpet untuk shalat. Ada saudara muslim yang sedang
shalat, aku berjalan di depannya seiring dia bersujud, aku hampir
menginjak kepalanya. Subhanallah, aku tak tahu apa yang sedang
kulakukan.
Kulihat ke belakang dan kulihat orang ini, kalian mungkin
mengenalnya, dia adalah Abu Hamza. Dia datang ke sini dan berceramah
beberapa kali. Subhanallah, aku memanggilnya Abu Da’n, karena dia
mempunyai jenggot yang sangat lebat, masya Allah.
Dia berjalan ke arahku dan aku berpikir “Hari ini aku akan mati. Ini
adalah hari terakhir aku hidup. Aku akan mati. Aku seorang pria kulit
putih di Leb-Land (Libanon). Apa yang harus kulakukan? Aku akan mati.
Dia terus berjalan bagaikan berjalan di Gurun Sahara, sebuah abaya
(gamis) yang besar, enggot yang lebat. Tapi subhanallah, kata-kata
pertama yang dia ucapkan adalah “Selamat siang kawan! Apa kabarmu?”
Subhanallah, aku sangat terkejut dengan keramahannya.
Sebagai orang Australia -orang Australia jangan tersinggung- tapi
didikanku berasal dari didikan negaraku. Orang tuaku membesarkanku
sebagai seorang atheis. Mereka dibesarkan sebagai Kristiani. Mereka
terpaksa pergi ke gereja tiap Minggu dan mereka sangat membenci hal itu.
Jadi ketika aku dan saudara-saudaraku lahir, mereka menanamkan di otak
kami bahwa “Ketika kau mati, selesai sudah. Itu saja. Tidak ada akhirat,
tidak ada Tuhan, itu semua bohong. Jadi aku dibesarkan sebagai atheis.
Jadi, ketika aku beralan, aku melihat Abu Hamza dan dia berbicara
kepadaku dengan sangat sopan, aku sangat bersyukur. Karena perasaanku
aku telah melihatnya tadi di berita jam 5, ia sedang membajak sebauh
pesawat di hari sebelumnya.
Orang Australia juga ramah, jangan salah paham, tapi Leboz (Orang
Libanon) adalah orang yang ramah yang pernah kutemui. Seiring Abu Hamza
berbicara, saudara-saudara muslim yang lainnya membuatkanku secangkir
teh. Jujur saja, aku harus bolak-balik ke toilet setiap 5 menit. Mereka
terus saja menyediakanku teh dan biskuit. Aku tak pernah dijamu seperti
ini sebelumnya. Dan kupikir, di sisi lain, aku terus kembali karena
biskuitnya, dan juga karena agamanya.
Jadi, ketika duduk bersama dengan saudara-saudara muslim ini, akupun
bertanya. Kutanya segala pertanyaan yang pernah kuajukan kepada pendeta,
pastor, dan teman-temanku. Subhanallah, hal yang paling menyentuhku
adalah, setiap aku bertanya, mereka tidak hanya menjawab, mereka
mengambil Alquran dan berkata, “Baca ini bro.” dan di sana ada
jawabannya kapanpun aku bertanya.
Dan aku bertanya pertanyaan lainnya, pertanyaan yang sulit, bukan
pertanyaan yang mudah, “Kenapa wanita harus mengenakan jilbab? Kenapa
dengan jilbab? Bagaimana bisa aku boleh punya 4 istri tapi wanita tidak
boleh punya 4 suami? Aku ingin tahu segala pertanyaan sulit yang
merupakan pertanyaan yang akan kalian juga ajukan ketika kalian baru
tahu tentang Islam.
Setelah sekian lama mereka terus menjawab pertanyaan dengan Alquran,
bukan dari pendapat pribadi mereka dan aku jadi frustasi karenanya. Dan
sebenarnya aku berkata pada salah satu saudara muslim. Dalam waktu ini,
aku telah bolak-balik ke sana sekian minggu, di sana selalu ada beberapa
saudara muslim ketika aku pergi. Dan aku bertanya kepada salah satu
satu diantara mereka “Apa pendapatmu tentang masalah ini?” Kenapa kau
tidak memberikan pendapatmu? Dan salah satu saudara muslim berkata
kepadaku “Aku tidak boleh berpendapat dengan pendapatku, karena ini
adalah firman Tuhan.”
Subhanallah, aku ingat hal itu sangat menyentuh hatiku. Aku bertanya,
“Bolehkah aku membawa satu buah Alquran?” Dan aku tidak mengatakan
bahwa aku akan meninggalkannya di sofa atau semisalnya. Aku akan
menghormati kitab ini.
Aku membawa Alquran pulang dan mulai membacanya. Apa yang kutemukan
saat membaca Alquran tidak seperti aku sedang membaca sebuah cerita. Itu
terasa seperti seseorang memberiku perintah atau petunjuk.
Di suatu malam, aku memutuskan untuk mencoba dan membuat suasana
rohaniah. Aku menyalakan lilin, membiarkan jendela dan gorden terbuka.
Aku mencoba untuk benar-benar merasakan nuansa rohani. hari itu adalah
malam musim panas di Melbourne. Dan aku duduk disana berpikir “Ini dia!
Inilah malamnya.”
Aku telah menyelidiki semua bukti rohani, semua bukti ilmu
pengetahuan tentang fakta bahwa gunung adalah penyangga bumi, tentang
bagaimana embrio berkembang dalam janin wanita semuanya adalah bukti
yang menakubkan tapi aku masih butuh sedikit motivasi lagi. Ini terasa
seperti aku berada di pinggir sebuah tebing, aku siap melompat, aku
hanya butuh sebuah dorongan.
Jadi, aku duduk di sana dan terasa sangat sunyi. Aku membaca Alquran
dan berhenti. Aku mengatakan, “Allah, inilah saatnya. Inilah waktunya
aku memasuki Islam, apa yang aku butuhkan hanyalah sedikit tanda
kebesaran-Mu, sedikit saja, tidak usah yang besar, mungkin sebuah kilat,
mungkin setengah rumahku ambruk, atau Kau tahu, yang kecil. Kecil
untuk-Mu, Kaulah yang menciptakan bumi, ayolah.
Jadi aku duduk disana, aku sedang menunggu kemungkinan api lilinnya
melompat 4 meter di udara seperti di film-film. Dan aku berkata, “Oke,
ayolah!” Dan subhanallah, tidak teradi apa-apa. Benar-benar tidak
terjadi apapun.
Seumurnya aku sangat kecewa. Aku masih duduk disana dan kuulangi
perkataanku, “Allah, ini kesempatan-Mu. Aku di sini. Aku tidak pergi
kemanapun. Aku akan memberi-Mu kesempatan kedua. Mungkin Kau sedang
sibuk. Ini siang hari, mungkin Kau sedang mengatur dunia karena ada
banyak hal yang terjadi. Kali ini mungkin hanya penampakan karpet
terbang, Kau tahu sesuatu yang kecil., lupakan saja tentang rumah atau
lilin tadi, seekor burung bisa kentut di luar, aku tak peduli, apapun
itu. Oke, ayolah.
Dan subhanallah, benar-benar tidak ada apa pun yang terjadi, bahkan
aku tidak dapat berkata “Oh itu dia, temboknya jadi retak, itu dia!”
Benar-benar tidak ada yang terjadi. Aku sangat kecewa dan cemberut.
Aku duduk di sana berpikir, sudahlah, ini kesempatan terakhirku masuk
Islam dan benar-benar belum menemukannya. Namun kuambil lagi Alquran
dan kubaca lagi. Subhanallah, ayat berikutnya di halaman selanjutnya
“Untuk kalian yang meminta petunjuk, tidakkah telah Kami tunjukkan?
Lihatlah di sekitarmu., lihatlah bintang-bintang, lihatlah matahari,
lihatlah air. Inilah tanda-tanda untuk orang yang mengetahui.”
Subhanallah… Aku menutupi kepalaku dan berpura-pura aku sedang tertidur,
setakut itulah aku.
Aku tak percaya betapa sombongnya aku menginginkan tanda yang
ku-inginkan padahal sudah ada sekian lama tanda-tanda kebesaran Allah di
sekelilingku. Fakta adanya dunia, adanya ciptaan, inilah tanda-tanda
bagi kita.
Hari berikutnya aku memutuskan inilah saatnya aku menjadi muslim.
Seumurnya aku telah meneliti Islam selama kurang lebih 6 bulan. Aku
pergi ke Masjid dan berkata pada diriku sendiri “Inilah saatnya aku akan
mengucapkan syahadat.” Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tak
tahu apa kata-katanya. Hari itu dekat dengan shalat isya, mungkin saja,
7 atau jam 8 malam. Aku masuk ke dalam masjid dan aku tidak percaya ada
sekitar 1000 orang di dalam masjid tersebut. Aku berpikir “Subhanallah,
lihatlah ini, betapa kuatnya mereka!” Ternyata itu hari pertama
Ramadhan.
Jadi aku duduk disana dan aku sangat gugup saat itu. Aku harus
berdiri dan seseorang membimbingku “Kau harus mengucapkan kata-kata ini
bro ‘asy-hadu‘” Aku katakan “Apa? Ash apa? Bisakah dalam bahasa
Inggris saja?” Orang itu mengatakan, “Tidak, kau harus mengatakannya
dalam bahasa Arab.”
Aku berpikir, lihatlah semua lautan jenggot ini dan aku harus
mengatakannya di depan mereka semua?! Kalau aku mengucapkannya dengan
salah, aku bisa mati. Sampai demikian rasa takutku karena image umat
Islam. Dan mereka semua menyorotkan pandangan mereka padaku, padahal
orang Australia tidak tahan dengan tatapan demikian.
Aku berdiri dan subhanallah, seiring aku mengucapkan kata-kata itu,
semua ketakutan menghilang dari pikiranku. Terasa seperti sebuah shower
ada dalam kepalaku dan seseorang menyalakan air dinginnya. Terasa
seakan-akan aku telah dibasuh bersih. Aku ucapkan syahadat dan aku tak
menduga begitu banyak saudara muslim menghampiri dan “Takbir! Allahu
Akbar!!” Lalu mereka mulai menciumku dan memelukku. Aku tidak pernah
dicium oleh begitu banyak pria dalam hidupku, tapi itu adalah hari yang
indah, harus kuakui. Hari itu adalah hari dimana aku mendapat lebih
banyak saudara daripada yang kubayangkan.
Keluargaku begitu khawatir bahwa aku akan menjadi sedikit aneh, bahwa
aku akan menembakkan AK-47 dan meledakkan granat. Tapi akhirnya mereka
menyadari bahwa agama ini membuatku menjadi orang yang lebih baik dan
bisa diandalkan.